Thursday, February 23, 2012

Bisakah Aku Menulis Tentang Paradigma Pendidikan

Baca Juga:

Selamat pagi, selamat siang, selamat sore, atau selamat malam semuanya (berhubung bikin teks tidak langsung publish). Pada kesempatan kali ini mencoba mengeluarkan unek-unek tentang pendidikan Indonesia berdasarkan sesuatu yang saya dengar, saya lihat dan saya pikirkan tentang pendidikan.

Dalam judul ada sebuah kata paradigm (sok aja atuh, padahal arti dari paradigma juga tidak tahu tuh), tapi bukan masalah ini yang akan menjadi unek-unek yang berada di otak dan ingin dituangkan meskipun mungkin dengan bahasa yang bukan seharusnya tentang pendidikan.

Beberapa tahun lalu saya mendengar istilah kelas akselarasi (acceleration class), seperti balapan aja ya, memaksimalkan akselarasi, bagaimana kendaraan dapat melaju lebih cepat dari kendaraan normal lainnya. Hemm sungguh luar biasa pendidikan ini sehingga ada percepatan pendidikan. Ibaratkan buat biar cepat matang perlu dilakukan akselarasi dengan melakukan pemeraman dengan menambahkan karbit (matang karbitan), bagaimana rasa buah yang matang tapi melalui proses pemeraman dengan mempergunakan karbit. Rasanya tentu berbeda dengan buah yang matang secara alami.

Menurut otak saya yang mungkin tidak terlalu miring ini, acceleration class tidak jauh beda dengan buah matang karbitan. Kalau buah yang diperam sudah memang hamper matang, rasanya tidak akan masam, tapi kalau buah muda tentu akan asam tidak selayaknya rasa buah matang.

Siswa adalah manusia, mungkin tidak sama dan memang tidak sama dengan buah, namun bagaimana dengan otak siswa yang dipaksa dengan proses class acceleration. Apakah mereka akan menjadi buah yang awet dan tahan lama, atau bahkan menjadi buah yang cepat busuk seperti buah yang matang karena dikarbit (ada yang Tanya apa itu karbit?).

Dibilang setuju sepertinya tidak dengan class acceleration, mau dikatakan tidak setuju apa yang saya bisa. Cuma bisa berharap hasil cetakan dari percepatan kelas tersebut bukan buah matang yang tidak bertahan lama, cepat busuk dan memiliki rasa masam. Namun siswa adalah manusia yang sangat jauh berbeda dengan buah dan makhluk lainnya, diciptakan begitu sempurna untuk membangun negeri ini dan dunia ini dengan otak dan pola berpikir yang mereka mililiki kelak.

Berpikir singkat tanpa mencari referensi apa itu class acceleration, mungkin dan mungkin adalah untuk mencetak tenaga professional sesingkat mungkin dengan mengurangi waktu belajar disekolah sehingga terciptalah tenaga-tenaga professional yang memiliki tingkat intelektual tinggi dan mempu mengejar percepatan pembangunan negeri dan dunia.

Menurut cerita orang dahulu yang mungkin sekarang sudah tiada, ada siswa yang bukan berada di kelas akselarasi tapi mampu menjalani pendidikan lebih cepat dari waktu normal (kemungkinan intelek beliau-beliau diatas rata-rata), namun semua berjalan secara alami karena mereka memang memiliki kemampuan diatas rata-rata. Sementara siswa yang berada di kelas akselarasi semuanya siap jiwa dan raga untuk dikebut?????

Kelas akselarasi terkadang disebuah sekolah favorit hanya satu kelas, dan itupun beberapa persentasi kecil dari jumlah siswa keseluruhan, efektifkah percepatan kelas tersebut???? Seandainya saja (sekedar berpikir singkat) dalam satu waktu pendidikan siswa kelas akselarasi dicampur baur dengan kelas regular, betulkah siswa yang berada dikelas regular memiliki intelek dibawah mereka-mereka yang dipaksa menempuh pendidikan dalam waktu cepat.

Namun apapun aturan, program pemerintah, kita harus setuju. Tidak setuju pun masukan dari kelas bawah hanya akan dipertimbangkan. Ditimbang dan ditimbang (kapan dibungkus). Meskipun tidak ada kaitan apa itu paradigma pendidikan, yang penting sebagai ungkapan pola berpikir yang menjadi unek-unek biar tadi jerawat.

Maju terus pendidikan Indonesia, mari berpikir dan berkarya untuk kemajuan pendidikan.

Diposkan: Pada Thursday, February 23, 2012 On Category | Artikel dapat ditemukan di google Search
Comments
0 Comments

Post a Comment